Pembicara terlibat dalam diskusi panel mengenai energi terbarukan, riset berbasis ekonomi hijau, dan pemberdayaan UMKM selama seminar GICC.
Bekasi, 22 April 2026 – Green Innovation Cooperation Center (GICC), bekerja sama dengan ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre, BINUS University, Innobiz Association, serta didukung oleh Kementerian Koperasi dan Kementerian UMKM Republik Indonesia, berhasil menyelenggarakan Seminar GICC bertema “Enhancing the Sustainability of a Green Economy through the Utilization of Renewable Energy and Sustainable Finance by Strengthening MSMEs and Cooperatives in the ASEAN Region”.
GICC sendiri merupakan sebuah inisiatif yang dibentuk di bawah ASEIC (ASEM SMEs Eco-Innovation Center), sebuah organisasi yang berbasis di Republik Korea yang berfokus pada pengembangan eco-innovation serta penguatan kapasitas UMKM di negara-negara mitra ASEM.
Seminar ini diselenggarakan di BINUS University Bekasi dan menjadi platform strategis yang mempertemukan para pemangku kepentingan utama dari pemerintah, akademisi, industri, dan organisasi internasional untuk membahas transisi ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di ASEAN.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Kim Heesoon (Direktur, Green Innovation Cooperation Center), Lee Young Jick (Ketua, ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre), George Wijaya Hadipoespito (Vice President, BINUS Higher Education), Bastian (Kepala Biro Manajemen Kinerja dan Kerja Sama, Kementerian UMKM Republik Indonesia), serta perwakilan dari pemerintah Indonesia dan BINUS University, termasuk pejabat dari Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, dan pimpinan akademik.

Para pemangku kepentingan utama dari pemerintah, akademisi, dan industri berpartisipasi dalam seminar GICC tentang transformasi ekonomi hijau di BINUS University, 22 April 2026.
Dalam sambutan pembukaannya, Direktur GICC menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
“Untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor sangat penting, dengan UMKM dan koperasi sebagai pilar utama ekonomi ASEAN.”
Seminar ini membahas berbagai topik strategis, termasuk pemanfaatan teknologi energi terbarukan untuk UMKM, penguatan pembiayaan berkelanjutan, serta integrasi inovasi digital untuk mendukung transformasi bisnis menuju ekonomi hijau.
Menyoroti tantangan praktis yang dihadapi oleh UMKM, Andi Darell Alhakim, Pembicara Seminar (Analis Dekarbonisasi Bisnis di University of Oxford), menyampaikan bahwa transisi menuju keberlanjutan sering kali dimulai dari langkah sederhana yang dapat dilakukan.
“Bagi banyak UMKM, tantangan terbesar bukanlah kurangnya solusi, tetapi mengetahui dari mana harus memulai. Pada kenyataannya, langkah-langkah kecil dan praktis sudah dapat memberikan dampak yang berarti,”
Acara ini juga menekankan pentingnya inovasi, digitalisasi, dan kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat transisi hijau di kawasan.
Lee Young-jick, Kepala ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre, menyoroti perlunya integrasi yang lebih kuat antara faktor-faktor pendukung utama.
“Memperkuat keterkaitan antara teknologi, keuangan, dan kebijakan akan menjadi kunci untuk mempercepat keberhasilan transisi hijau di Kawasan ASEAN,”
Seminar ini menjadi platform strategis untuk dialog dan pertukaran pengetahuan, yang mencakup sesi pembukaan, talk show interaktif, serta presentasi dari para ahli dan praktisi. Topik diskusi utama meliputi strategi kerja sama berkelanjutan, peran universitas dalam inovasi UMKM, kebijakan dukungan pemerintah, penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam transisi hijau, serta dekarbonisasi UMKM.
Selain berbagi pengetahuan, seminar ini juga bertujuan untuk mendorong kemitraan strategis di antara berbagai pemangku kepentingan dari sektor publik dan swasta, sekaligus memperluas peluang kerja sama di kawasan ASEAN.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, GICC menegaskan kembali komitmennya untuk terus mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi internasional, serta mendukung pengembangan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

Peserta dan pemangku kepentingan berfoto bersama selama seminar, menyoroti upaya kolaboratif menuju keberlanjutan ekonomi hijau di kawasan ASEAN.

